Tren Belanja Daring: Dipaksa Berubah oleh Pandemi

Di penghujung tahun 2020, banyak media memberitakan apa saja tren yang akan terjadi di dunia belanja daring pada tahun 2021. Entah untuk kategori fesyen, produk perawatan diri, hingga makanan, semua diprediksi akan berbeda dari tahun sebelumnya. Namun satu yang pasti, tren belanja daring masih menjadi metode belanja yang paling digunakan di tahun 2020. Hal tersebut bisa terlihat dari statistik tren belanja daring di tahun 2019. Seperti yang dilansir dari laman sirclo.com, di tahun 2019 pertumbuhan kelas menengah di Indonesia naik 21% dari total populasi. Bahkan menurut berita yang dilaporkan McKinsey, industri platform belanja daring di Indonesia diprediksi pada tahun 2022 bisa mencapai nilai USD 40 milyar.

Memasuki Awal Tahun Hingga Kuartal III 

Siapa menyangka, di awal tahun 2020 sampai setidaknya sampai akhir tahun 2020, tren belanja daring meningkat drastis karena pandemi virus Covid-19. Terlebih saat beberapa bulan pertama, banyak masyarakat yang diharuskan untuk berdiam di rumah. Pastilah kebutuhan harus tetap terpenuhi. Maka mau tidak mau cara yang ditempuh adalah belanja secara daring. Seperti yang dilansir dari suara.com, Marketing Kantar Indonesia, Fanny Murhayati, mengatakan bahwa kategori makanan adalah yang tertinggi dicari sebab makanan merupakan kebutuhan primer. 

Memasuki Kuartal II, data dari Bank Indonesia menunjukkan adanya eskalasi transaksi belanja di e-commerce yang telah dilakukan sebanyak 383,5 juta. Tentunya angka tersebut diperoleh dari penambahan 39,05% transaksi dari Kuartal I. Banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah penambahan jumlah pengguna baru e-commerce. Mereka adalah yang sebelumnya belum pernah berbelanja secara daring. 

Di sisi lain, salah satu platform belanja daring, Tokopedia, mencatat sepanjang Kuartal III terdapat kategori favorit yang kerap dicari oleh penggunanya, yakni: Makanan dan minuman, kesehatan, alat elektronik, dan keperluan rumah tangga.  

Dari sisi ekonomi, yang diuntungkan adalah penjual dan pembeli. Penjual bisa mendapatkan target ekonomi yang mereka perlukan, dan pembeli bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Namun seperti sebuah koin yang bermata dua, dalam ekonomi ada teori “Permintaan dan Penawaran”. Tentu ini bisa mempengaruhi keseimbangan harga dan kuantitas yang ada. Dalam lingkup pasar bebas secara umum, ada beberapa hal yang bisa dipertimbangkan bila seandainya permintaan lebih tinggi daripada penawaran, yakni mempelajari apa saja substitusi barang yang bisa dipakai. Secara eksplisit, ini mengarah bagaimana pasar bebas bekerja. Tentulah hal ini yang belum pernah dipelajari sebagian masyarakat, dan pandemi ini memaksa mereka terus mempelajari hal baru dan untuk terus belajar bagaimana cara bertahan hidup. 

Leave a reply

× Butuh Bantuan?